Translate

Daftar Blog Saya

17 Mei 2026

Kapal Tambang (Motor Kelotok) Rasau Jaya Tidak Beroperasi Karena BBM Mahal, Arifin Noor Aziz Angkat bicara


Sabtu, 16 Mei 2026, Nuusantara News - Tidak terlihat Aktivitas angkutan Kapal di pelabuhan Rasau Jaya, khususnya layanan trayek Kapal Tambang/kelotok Angkutan sungai yang tidak beroperasi, akibat sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) Subsidi jenis solar serta tingginya harga BBM jenis solar.


Informasi yang didapat melalui komunikasi via Telpon maupun WA yang dilakukan oleh Anggota DPRD Kubu Raya, Dr. Arifin Noor Aziz, SH. MH kepada beberapa pengusaha kapal maupun Ketua GAPASDAP (Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan) menyatakan bahwa aktifitas layanan kapal tambang untuk sementara waktu tidak beroperasi sampai jangka waktu yang belum bisa ditentukan.


Kondisi Geografis Kalimantan Barat khususnya wilayah perairan sungai dan pesisir menjadikan Akses sarana Transportasi Air dengan menggunakan Kapal tambang/kelotok menjadi kunci terhubungnya Akses antar wilayah, bahkan akses antar Kabupaten.


Angkutan kapal kelotok bukan hanya digunakan untuk angkutan penumpang tetapi juga menjadi sarana vital guna mensuplai kebutuhan pokok (sembako, sayuran), bahan bangunan dan lain-lain yang menjadi kebutuhan hidup masyarakat maupun hasil komoditi masyarakat Desa yang hendak dijual di kota seperti (hasil perikanan, perkebunan, maupun peternakan) yang menjadi penopang ekonomi masyarakat Desa.


Pelabuhan Rasau Jaya merupakan gerbang utama lalu lintas trayek kapal tambang antar kabupaten (Kayong Utara, Ketapang) maupun wilayah kecamatan pesisir Kubu Raya. Bahan Bakar Minyak (BBM) solar menjadi kunci utama pendukung kegiatan Angkutan sungai menggunakan Kapal kelotok/motor tambang.


Menurut informasi yang disampaikan oleh beberapa pengusaha Angkutan Kapal bahwa penghentian Aktifitas Angkutan layanan ini merupakan  imbas dari sulitnya mendapatkan BBM Solar serta jika ada harga BBM solar didapat dengan harga yang tinggi berkisar antara Rp. 16.000 hingga Rp. 17.000, sehingga tidak sesuai dengan beban biaya operasional, sedangkan tarif angkutan mengacu pada peraturan bupati dan peraturan gubernur tentang ketentuan tarif Angkutan sungai.


Disisi lain beberapa pengusaha angkutan kapal juga tidak ingin menaikkan tarif, karena nantinya akan berdampak pada harga barang maupun kenaikan harga lainnya.Pengusaha kapal juga menginginkan adanya solusi guna menyikapi permasalahan kelangkaan BBM jenis Solar maupun Kestabilan Harga BBM jenis solar dan meminta agar kegiatan Angkutan Kapal bisa menggunakan BBM Solar Subsidi agar bisa menekan biaya operasional sehingga tidak mempengaruhi tarif angkutan.


Dalam komunikasi via telpon bersama Ketua GAPASDAP menyatakan bahwa Gapasdap sudah melakukan pertemuan bersama Pertamina serta Dinas Perhubungan Kabupaten maupun Dinas Perhubungan Provinsi terkait permasalahan kelangkaan BBM solar namun belum ada solusi konkret guna mengatasi permasalahan ini.


Dalam ketentuan penggunaan BBM jenis Solar bersubsidi hanya diperbolehkan untuk kapal dengan kapasitas maksimal 30 GT sedangkan kapal dengan kapasitas diatasnya harus mendapat rekomendasi dari BPH Migas.Arifin Noor Aziz yang juga merupakan Anggota DPRD Kubu Raya Dapil Kubater (Kubu, Batu Ampar dan Terentang) menyatakan bahwaTransportasi Air/Angkutan perairan merupakan Akses Vital dalam menghubungkan antar wilayah, yang mengangkut penumpang maupun barang.


Ketika Aktivitas layanan angkutan sungai tidak beroperasi maka akan berdampak pada semua sektor, seperti akan terjadi kelangkaan bahan pokok (sembako), akan terjadi kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari, terputusnya interaksi sosial, usaha maupun bisnis, juga memberi dampak pada sektor pendidikan, kesehatan maupun ekonomi masyarakat, dengan terhambatnya pengiriman hasil produksi pertanian, perkebunan, perikanan dari suatu wilayah.Arifin berharap :


1. Segera ada solusi atau langkah-langkah konkrit yang segera diambil oleh Pemerintah Daerah (Provinsi maupun Kabupaten), PERTAMINA, GAPASDAP dan Pengusaha Angkutan Kapal dalam menyikapi kelangkaan BBM jenis Solar, yang menyebabkan berhentinya Aktivitas layanan angkutan Kapal tambang/motor kelotok. Sehingga ada solusi jangka pendek maupun jangka panjang.


2. Mendorong Usaha Angkutan Kapal Tambang/Kapal kelotok bisa mendapatkan kuota BBM jenis Solar Subsidi dengan ketentuan sebagai kapal angkutan penumpang, angkutan barang kebutuhan (sembako) serta hasil komoditi lokal, serta Angkutan sungai tersebut menghubungkan wilayah-wilayah terpencil.


3. Tidak menaikkan tarif angkutan Kapal tambang/motor tambang karena akan menyebabkan efek domino disemua sektor.


4. Adanya penyesuaian regulasi pemerintah pusat dengan kondisi Daerah agar tidak terjadi Anomali kebijakan dengan menyesuaikan kondisi geografis, kultur sosial dan kebutuhan wilayah khususnya dalam menyikapi permasalahan Angkutan sungai dan pesisir. Jrn