Pontianak, Nuusantara News - Pihak keluarga korban Andrea membantah tegas pernyataan Direktur Rumah Sakit Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak yang menyebut bahwa pelayanan medis terhadap korban telah dilakukan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Keluarga menyatakan memiliki bukti kuat berupa rekaman video dan keterangan saksi yang menunjukkan bahwa pelayanan medis tidak dilakukan secara cepat sebagaimana mestinya untuk pasien gawat darurat.
Iskandar orang tua korban sekaligus Pimpinan Nuusantara News yg juga ketua DPD Peradi Perjuangan Provinsi Kalbar menegaskan bahwa klarifikasi yang disampaikan pihak rumah sakit tidak sesuai dengan fakta di lapangan. “Kami punya bukti video dan saksi mata yang menyaksikan sendiri bagaimana anak kami datang dalam kondisi kritis namun tidak segera ditangani. Jadi, klaim bahwa semua sudah sesuai SOP itu tidak benar,” ujar Iskandar, Selasa (4/11/2025).
Terkait pernyataan pengamat publik Herman Nofi Munawar yang menilai langkah rumah sakit sudah sesuai prosedur, Iskandar menilai hal itu sah-sah saja sebagai pendapat pribadi. “Pernyataan pengamat publik itu boleh saja, karena beliau tidak dalam posisi sebagai korban dan tidak menyaksikan langsung peristiwa di lapangan. Tapi bagi kami, fakta dan bukti nyata jauh lebih penting dari pada opini,” tegasnya.
Iskandar juga menyoroti pernyataan Direktur Rumah Sakit yang dinilai terlalu cepat membela institusi tanpa melalui proses pemeriksaan independen. “Pihak rumah sakit seharusnya terbuka dan tidak membela diri secara sepihak sebelum ada hasil pemeriksaan yang sah. Kami akan menempuh jalur hukum untuk menguji kebenaran klaim mereka,” tambahnya.
Keluarga menyampaikan bahwa laporan resmi akan segera dilayangkan ke pihak Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, untuk menelusuri dugaan kelalaian pelayanan medis berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan regulasi perlindungan pasien lainnya.
Kasus ini bermula dari peristiwa penganiayaan yang dialami korban Andrea pada Minggu malam (2/11/2025). Korban yang mengalami luka berat dibawa ke Rumah Sakit Sultan Syarif Alkadrie Pontianak, namun pihak keluarga menilai penanganan yang diberikan sangat lambat dan tidak sesuai prosedur pasien gawat darurat.
“Kami bukan mencari sensasi, kami menuntut kebenaran dan tanggung jawab. Nyawa anak kami bukan sekadar angka statistik, ini soal kemanusiaan dan profesionalisme,” tutup Iskandar dengan nada tegas.
Tim red

